Wednesday, August 25, 2010

Saya ingin jadi rockstar, sutradara, penulis, artis (dengan notabene bukan celebritis), dan diktator

Maen gitar dipanggung sambil nyanyi
muter2in panggung sambil maen gitar
loncat2 dipanggung sambil nyanyi
ngancurin panggung sambil banting gitar

saya ingin bikin film
saya ingin bikin film aksi
saya ingin bikin film drama
saya ingin bikin film yang berpengaruh buat perfilman dunia

Saya ingin menulis buku
ingin nulis buku roman
ingin buat orang tergerak gara-gara tulisan saya
ingin orang-orang terpengaruh dengan buku saya

pengen akting disebuah film
pengen dapet penghargaan dari akting saya
pengen orang-orang kagum terhadap hasil kerja saya
pengen orang-orang senang dengan hasil karya saya

saya mimpi pengen nguasain dunia
Satu dunia bakal saya gabung menjadi satu ekonomi dan negara global
ga ada ras yang ada spesies manusia
kalo ada yang menolak, saya nuklir dan saya buat peraturan tidak ada yang bisa nentang saya

itu yang saya pengen...kl ga bisa semuanya setidaknya salah satu dari itu
artis, sutradara atau diktator okeh juga kok
kalau dikabulin saya akan menjadi yang terbaik dari yang pernah ada!!!

Tuesday, August 03, 2010

Dinding ini akan terus ada

Semakin kamu berbuat seperti ini, semakin tebal dan tinggi dinding itu
aku akan ada terus berada didalamnya menjauh dari rasa sakit yang akan datang
kamu satu-satunya orang yang aku cinta, dan aku tahu kamu satu-satunya orang
yang dapat membuat aku hancur berkeping-keping

Jika kamu bilang aku membangun dinding disekelilingku
itu memang benar dari dulu dinding itu sudah ada
untuk melindungi aku dari rasa sakit
aku orang yang sangat menjaga diri aku sendiri

Selama hal ini terus berlanjut
kamu akan semakin menjauh
dan yang akan kau ratapi nanti
adalah jarak yang mulai tercipta

Tuesday, July 27, 2010

Hey im back...with some trouble

Back again...

karena tidak menemukan outlet untuk mencurahkan segala keluh kesah, kegelisahan, kekhawatiran...akhirnya saya menulis lagi di blog ini

pernah ga kalian khawatir dan takut dengan masa depan kalian sendiri?
saya jujur sangat takut.

saya akan menjadi apa, kerja dimana, dengan siapa saya akan berteman dll. saya tahu masa depan akan selalu berubah sesuai dengan usaha kita dimasa sekarang. Justru itu yang saya takutkan.

Sekarang saya belum berbuat apapun.
Sebenarnya Tuhan sudah menuliskan takdir setiap manusia atau kita diberi kebebasan untuk merubahnya? saya bingung...dan ketakutan kalau masa depan saya suram dan saya meninggal hanya sebagai seonggok daging yang tidak bernyawa.

mudah-mudah2an tidak seperti itu. saya berdoa agar tidak terjadi, dan tidak akan pernah

mari kita positifkan diri dengan mendengarkan lagu yang membangun :D
*play muse - invincible

Thursday, July 08, 2010

map of problematique

Fear
And panic in the air
I want to be free
From desolation and despair
And I feel
Like everything I saw
Is being swept away
When I refuse to let you go

I can't get it right
Get it right
Since I met you

Loneliness be over
When will this loneliness be over?

Life
Will flash before my eyes
So scattered and lost
I want to touch the other side
And no one
Thinks they are to blame
Why can't we see
That when we bleed we bleed the same?

I can't get it right
Get it right
Since I met you

Loneliness be over
When will this Loneliness be over?

Loneliness be over
When will this Loneliness be over?

Wednesday, June 23, 2010

i should've write something but my mind just simply blocked

Mungkin karena udah terlalu lama jarang dipake jadinya gini
susah buat mikir, susah dapet ide

harus dilatih dengan baca buku
i used to think differently and creatively
but now it just like my mind going out somewhere

maybe next time i think of something else to write

dear blog i'm so sorry
i haven't jot anything down
i promise you next time


Thursday, June 10, 2010

Saya harus lebih sabar

Saat seseorang bersifat kekanak2an kita harus mengimbanginya dengan bersifat lebih dewasa.
Saat seseorang sedang sedih padahal kita sendiri sedang gundah, kita berusaha menyelimuti dia dengan rasa nyaman dan memberinya suaka hati.
Saat seseorang meledak2 dibakar amarah, dan kita dibuat kesal. Kita hadapi dengan lebih tenang dan sabar
Saat seseorang bersifat egois, tidak peduli, dan acuh. Kita memberi ruang untuk mereka sendiri walaupun kita ingin diperhatikan.
Saat seseorang sedang berusaha, kita berusaha mendoakan dan memberi dukungan walau kita sendiri sedang kesusahan

Kapan saya bisa bersifat kekanak2an?
kapan saya bisa sedih saat saya kesusahan?
kapan saya bisa marah dan merasa kesal?
kapan saya bisa menuntut untuk diperhatikan, egois dan acuh?
kapan saya bisa didoakan, diberi dukungan?

Saya sudah capek...
saya ingin sendiri dan kalian semua mati saja dimakan ego kalian



Monday, May 31, 2010

Alamikah? atau Karunia? atau Diajarkan?

"Saya tidak pernah tahu bagaimana menjadi kamu,
maka ajarkanlah saya agar saya tahu"

Kita tidak pernah tahu bagaimana rasanya menjadi orang lain. Tidak tahu apa saja yang mereka sudah alami dan bagaimana perasaan mereka saat mereka menghadapinya. Karena kita tidak pernah tahu. Maka kita bersimpati, mungkin untuk tahap lebih lanjutnya kita berempati kepada mereka.

Bersimpati kepada orang-orang yang sedah kesulitan atau dilanda kemalangan mungkin semua orang bisa melakukannya. Saat kita melihat pengemis, atau nenek2 tua berjualan, kakek2 pemulung sampah. Pasti muncul rasa iba, rasa kasihan. Pengen kita untuk segera membantu mereka. Sesuatu atau seseorang yang less fortunate pasti akan mentrigger kita untuk merasa iba.

Pertanyaan saya sekarang adalah apakah simpati itu sesuatu yang alami? kalau dalam bahasa inggrisnya its only natural, atau itu diajarkan dan bisa dipelajari? atau itu adalah sebuah karunia?. Kadang juga saya suka bertanya, apakah simpati itu sebagai sebuah proses sosialisasi dengan lingkungan kita? sebuah pengalaman yang diajarkan kepada kita dan kita mengambil tindakan dengan merasa iba?.

Maksud saya adalah saya merasa iba karena itulah yang benar. Misalkan ada kakek2 tua renta memanggul alat2 sol sepatu ditengah siang terik sudah sepatutnya saya merasa iba...benar?. Karena orang tua kita mengajarkan agar membantu kepada yang kurang mampu dan jangan menyombongkan diri didepan mereka. Agama yang masing2 oleh kita anut pun mengajarkan seperti itu. Maka kita memproses ajaran itu dengan mengambil kesimpulan dengan merasa iba dan tindak lanjutnya (mungkin...ini kadang jarang terjadi...tapi bisa jadi terjadi) membantu. Kalau saya mengatakan "sudah nasibnya seperti itu kenapa harus capek2 merasa iba? dia kurang pendidikan dan itulah yang dia dapat. Dan juga kenapa anak2nya tidak membantu dia? oh mungkin dia memiliki terlalu banyak anak dan akhirnya mereka juga kurang pendidikan dan tidak bisa membantu orang tuanya juga".

Bagaimana? Terdengar sama saja? atau saya terdengar seperti tidak punya hati nurani

Inti dari tulisan saya tadi adalah apakah simpati juga bisa dipalsukan? mungkin bisa. Jika bisa, ini berarti benar anggapan saya simpati itu seperti sebuah proses sosialisasi. Agar saya bisa berbaur dengan masyarakat. Agar saya bisa diterima oleh teman-teman saya. Seperti apa yang dikatakan oleh teori komunikasi Spiral of Silence...Benar?

Lalu bagaimana dengan empati? apakah kita benar2 bisa merasakannya? sepengalaman saya sih. Ada yang benar2 bisa. Dia sampai benar2 seperti merasakan hal yang sama dengan teman atau keluarganya rasakan. Pernah tidak kalian berada disituasi seperti ini, misalkan kalian pergi dengan teman2 kalian, ada satu teman kalian sedang seperti ada masalah. Dan kalian langsung dengan cepat merasakannya. Atau ada satu teman kalian yang sedang sebal dengan seseorang, saat dia menceritakan orang itu seakan2 kalian juga benar2 sebal sama dia. Padahal kalian sama sekali tidak mengenal orang itu, sejarah orang itu benar2 tidak pernah terdengar dikuping kita.

Apakah itu empati? atau itu masih simpati? (mungkin ada yang bisa menjelaskan lebih lanjut apa itu empati...karena penjelasan diatas hanya sebatas dikepala saya saja, tidak dibantu oleh riset lebih lanjut)

Empati atau bukan. Saya merasa jika memang begitu kasusnya untuk bisa merasakannya seperti orang lain rasakan kita harus memiliki ikatan yang amat erat dengannya terlebih dahulu? kalau memang begitu berarti tidak murni donk perasaan yang kita miliki. Itu hanya sebatas pertemanan atau bro-s over ho-s. Berarti empati sendiri dimanufaktur oleh kita sendiri bukan sebagai perasaan yang alami.Apakah kita benar2 bisa berempati pada total stranger?
Nah setelah penjelasan saya yang panjang lebar diatas dijabarkan. Saya semakin berpikir. Jika benar kedua hal tersebut bisa "dipalsukan" berarti beberapa bentuk simpati dan empati yang saya lihat selama ini bisa jadi tidak sepenuhnya murni.

Pejabat yang mengucapkan bela sungkawa terhadap korban bencana alam, artis yang ramai2 memberi sedekah kepada anak2 yatim piatu, teman yang sedih saat temannya sedih, orang2 saat menonton korban bencana alam. Benarkah semuanya asli mereka rasakan?

Jangan sampai pertanyaan saya dianggap sebagai suudzon. Saya tidak bermaksud untuk mencurigai tindak baik mereka. Saya hanya kritis dan terus bertanya.

lanjut lagi kepermasalahan. Jika memang benar semuanya adalah rekayasa akibat lingkungan sosial yang mendorong kita, agar kita terlihat "benar", agar kita bisa membaur didalam masyarakat. Maka kita perlu banyak belajar lagi untuk bersimpati dan berempati. Bukan hanya sebagai kebutuhan bersosialisasi, bukan hanya sebagai baju yang menyelimuti kita agar kita terlihat bagus, anggun dan terpelajar dimata orang banyak. Tapi agar kita benar2 bisa merasakan bagaimana saudara-saudara kita saat mereka dilanda kesusahan dan bencana. Dengan tulus.

Tuhan tolonglah negeri ini beserta orang2 yang hidup didalamnya. Amin